Friday, August 17, 2018

Seorang "Introvert"

Ketika mendengar kata "Introvert", mungkin dalam benak setiap insan mempersepsikan bahwa setiap orang berkepribadian tersebut adalah pribadi yang anti-sosial, pendiam, kurang bergaul, dan penyendiri. Berbeda dengan kata "Extrovert" yang berkepribadian lebih aktif dan menyenangkan. Mayoritas setiap individu lebih memilih untuk bergaul dengan kaum Extrovert daripada Introvert. Memang tidak bisa dipungkiri, hal tersebut sangat dimaklumi.

Bumi merupakan satu-satunya planet yang banyak sekali dihinggapi berbagai makhluk hidup, walaupun penulis yakin statement tersebut belum tentu benar adanya. Di dalam bumi, ada makhluk hidup yang hampir mendekati sempurna, yaitu manusia. Mereka memiliki akal dan pikiran yang melebihi setiap makhluk hidup yang lain. Di setiap makhluk hidup tersebut, terdapat berbagai karakter dan sikap yang dimiliki oleh masing-masing individu, salah satunya adalah karakter Extrovert dan Introvert.

C.G Jung secara sederhana menjelaskan bahwa pengertian Introvert adalah sikap atau karakter seseorang yang memiliki orientasi subyektif secara mental dalam menjalani kehidupannya. Dengan kondisi seperti ini, seseorang yang memiliki kepribadian Introvert cenderung menyukai kondisi yang tenang, senang menyendiri, reflektif terhadap apa yang mereka lakukan serta memiliki kecenderungan untuk menjauhi interaksi dengan hal-hal baru.

Sedangkan Extrovert adalah kebalikan dari Introvert. Jika Introvert lebih cenderung untuk menyendiri, maka kepribadian Extrovert adalah seseorang yang memiliki sifat, kondisi, atau kebiasaan yang dominan sangat senang dengan kepuasan yang mereka temukan di luar dari diri mereka sendiri. Extrovert senang dengan aktivitas sosial, berinteraksi dengan orang lain, antusias, suka berdiskusi, dan senang bergaul.

Dari penjelasan tersebut, sudah bisa disimpulkan bahwa setiap karakter memiliki kelebihan dan kekurangan. Penulis sendiri juga merupakan seorang Introvert yang cenderung ekstrem. Bisa dikatakan ekstrem karena tingkat anti-sosial yang sangat tinggi mengingat di umur yang masih menginjak masa kuliah akhir. 

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi salah satu kampus di kota Surabaya. Iya, bisa dikatakan jurusan yang merupakan kebalikan dari karakter penulis yang merupakan Introvert. Namun hal tersebut tidak berpengaruh karena penulis sendiri sudah mendekati tugas akhir. Tetapi, penulis merasa ada yang kurang dengan kehidupannya. Merasa hampa, bingung, stress berkepanjangan, dan malas terhadap apapun. Penulis yang awalnya cukup supel ketika menginjak SMA, kembali menjadi anti-sosial di kuliahnya. Hal inilah yang membuat penulis semakin bingung, apakah seorang Introvert memang harus seperti ini? Tidak bisakah karakter tersebut berubah?

Hari demi hari dilewati, hanya melakukan hal-hal yang menurut diri sendiri masuk dalam zona "nyaman"nya. Bermain game, menonton kartun animasi Jepang, dan hal-hal tak berguna lainnya. Disisi lain, teman-teman seumurannya sudah melanjutkan kehidupannya sebagaimana manusia utuh sebenarnya. Lebih mengherankan, fenomena tersebut tidak membuatnya sadar dan termotivasi, hanya kembali melakukan kegiatan dalam ruang lingkup zona nyaman penulis. Tidak hanya itu, berbagai tuntunan datang dari orang tua penulis yang berpesan cepat lulus dan wisuda agar tidak seperti saudaramu. Hal tersebut tentu membuat penulis makin tertekan dan malas.

Tapi, semua itu tidak dapat dihindari dan disalahkan. Karena, setiap tindakan, perilaku, dan perkataan setiap orang pasti ada makna dan tujuan. Kerabat penulis sendiri tentu mempunyai niat yang baik dalam melakukan setiap kegiatan. KESIMPULANNYA ADALAH, PENULIS HANYA INGIN MENULIS APA YANG ADA DIBENAKNYA. HARAP DIMAKLUMI JIKA TULISAN INI MEMBUAT ANDA BINGUNG DAN PUSING. INGAT, INI HANYA REKAYASA.

Wednesday, August 01, 2018

Gabut, buntu, bingung akan berbuat apa. Serba malas, serba tidak adil, serba tidak beruntung, serba permusuhan, sungguh menyebalkan. Dengan mengandalkan laptop dan handphone, dua gadget yang dapat mengisi kebosanan baik bermain game, nonton animasi jepang, maupun cek beragam sosial media yang tersedia. Hanya sebatas itu, tapi mengapa masih belum terasa cukup? Stress, notok. Beragam tuntutan diberikan baik diharamkan "salah", mengalah, kemunafikan, pencitraan, dan yang pasti adalah ketidakadilan yang wajib ada. Cari motivasi, berujung merenung tiada akhir yang berlangsung berhari-hari, tetap tanpa solusi. Sehingga, terbenak satu pertanyaan yang terngiang dalam otak, "HARUSKAH KUAKHIRI?"

Friday, January 23, 2015

Ada yang Salah Dengan Dunia Ini.

Dunia begitu luas, kaya akan ciptaan Tuhan yang luar biasa. Banyak bermacam-macam makhluk mengarungi dunia yang begitu luas ini. Dulu, dunia hanya sekedar hewan dan manusia jaman purba. Mereka mempunyai prinsip hidup yaitu hanya berburu dan makan. Mereka melakukan itu karena mereka hanya ingin bertahan hidup dan tidak kelaparan. Tetapi semakin berkembangnya dunia ini manusia mempunyai prinsip yang berbeda. Tidak lagi hanya sekedar bertahan hidup, tetapi ingin berguna bagi dunia ini. Dunia menjadi sedikit rumit dari yang manusia bayangkan. Mereka bekerja untuk mencari uang demi kehidupan mereka. Prinsip mereka menjadi berbeda. Bukan mencari makan, tetapi mencari uang. Karena uang bisa membuat mereka bertahan hidup di dunia yang baru ini. Tetapi karena uanglah manusia menjadi tidak terkendali. Mereka menjadi serakah dan tidak mau berbagi. Uang adalah segalanya. Akhirnya muncul kasus korupsi, suap, dan lain-lain yang berkaitan dengan uang. Itulah dunia yang sekarang, tidak sesimpel dulu yang hanya berburu hewan untuk bertahan hidup. Mereka lebih berburu kekayaan dan tidak melihat sesama. Ada yang salah dengan dunia yang baru ini. Mungkin mereka mempunyai alasan yang kuat untuk berbuat hal tersebut tetapi mereka tidak memandang sesama yang begitu membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Mereka yang melakukan korupsi, lebih parah dibanding manusia purba. Akal mereka dan prinsip mereka lebih buas dari manusia purba. Ini bukan tulisan argumen, ini tulisan berdasarkan kenyataan apa yang terjadi didunia yang baru ini. Kenapa dunia menjadi rumit? Kenapa dunia tak sesimpel jaman dahulu? Kenapa manusia menjadi memikirkan dirinya sendiri? Apakah ini dunia yang Tuhan skenariokan? Apakah ini yang selama ini diinginkan manusia? Mungkin tidak. Ini hanyalah keinginan iblis yang ingin menambah komplotannya di neraka. Mungkin terdengar religius, tapi tulisan ini hanya tulisan tanpa tema, tidak mengandung unsur apapun. Semua manusia mempunyai pemikiran yang berbeda-beda, paham yang berbeda, prinsip yang berbeda. Tidak semua manusia mempunyai pemikiran yang digambarkan dalam tulisan ini. Tentu manusia tidak sempurna, mereka mempunyai kelemahan yang bahkan merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Tetapi, selalu ada kesan baik di diri manusia itu sendiri. Mereka ada yang bekerja secara sportif hanya untuk menafkahi keluarganya. Ada yang hanya sekedar membuat karya tidak membutuhkan bayaran apapun. Ada yang hanya untuk hidupnya supaya berkecukupan. Semua pemikiran manusia tidak sama. Tetapi, dari prinsip sosiologi yang umum, manusia tidak bisa hidup individual, mereka selalu membutuhkan orang lain untuk hidupnya. Itulah prinsip kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Tetapi banyak yang tidah memahami arti prinsip tersebut. Itu hanya dijadikan wacana ketika duduk di bangku sekolah. Ketika mereka sudah bekerja, mereka tidak memikirkan orang lain yang membutuhkan. Mereka cenderung egois dan hanya memikitkan dirinya sendiri. Dan akhirnya muncul pernyataan, "Ada yang Salah Dengan Dunia Ini".

Wednesday, January 21, 2015

Re-introduction.

Sebuah Catatan Biasa. Iya, hanya sekedar catatan biasa yang akan membuat masyarakat biasa tercengang. Ini ada tulisan pertama saya di blog ini. Sebelumnya saya telah membuat blog dengan link noboproject.blogspot.com tetapi saya lupa dengan passwordnya akhirnya saya memutuskan membuat lagi. saya akan memperkenalkan diri kembali. Nama saya Dhanang Arif Prastya biasa di panggil Dhanang, Dhan, Nobo, Arif, Pras, Prastya dan lain sebagainya. Saya mempunyai tempat singgah yg disebut rumah dikawasan Surabaya Selatan beralamatkan Jl. Ketintang Madya 3/12. Saya berkuliah di UPN Veteran Jawa Timur dan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Sebenarnya saya ingin pindah dari kampus saya yg sudah sgt usang ini. Tetapi itu tergantung saya apakah lolos ujian SBMPTN di tahun ini. Umur saya 18 th dan wajah saya mengalahkan umur saya. Sesuai dengan jurusan saya, saya hobi menulis. Sebenarnya bukan hobi, karena saya sgt membenci dengan yg namanya membaca. Tetapi karena hanya ini yg bisa saya lakukan. Saya terlahir tanpa bakat apapun. Saya dilahirkan dikeluarga yg bernuansa seni. Alm. Ayah saya dulu adalah seorang penulis. Mungkin hobi saya adalah warisan beliau. Seperti judul blog saya, saya hanyalah orang biasa tanpa bakat apapun. Bahkan saya tak mengerti mengapa saya dilahirkan tanpa bakat. Padahal keluarga saya adalah keluarga yg semuanya mempunyai bakat terpendam, kecuali saya. Mungkin ini takdir saya. Tapi saya tidak akan mengalah dengan takdir, saya akan membalik takdir yg mengatakan bahwa saya hanya orang biasa yg tak punya bakat apapun. Tujuan saya membuat blog ini untuk mengasah kemampuan saya dalam menulis, supaya hidup saya tidak membosankan. Saya ingin mempunyai kemampuan ataupun bakat yg saya buat sendiri. Di blog ini, saya akan menunjukkan bahwa orang biasa bisa membuat bakat alaminya sendiri tanpa menyerah dengan takdir. Mungkin semua orang berfikir bahwa hobi saya sgt biasa saja. Mungkin semua orang bisa menulis seperti yg saya lakukan di malam liburan saya yg membosankan. Tetapi, tidak semua orang mempunyai kemampuan yg sama. Tulisan menggambarkan karakter penulisnya yg unik. Tidak mungkin semua tulisan orang-orang sama persis. Semua mempunyai karakter yg berbeda-beda. Saya bersyukur mempunyai hobi menulis. Sebagai orang biasa, saya merasa ini adalah anugrah yg diturunkan tuhan. Saya akan terus menulis dan mengasah kemampuan saya hingga menjadi penulis terkenal di alam semesta ini. Berikut adalah cerita kehidupan saya dan biografi saya yg sangat biasa saja. Jika anda ingin baca, silahkan anda baca. Jika tidak, mungkin anda harus bertanya pada diri anda sendiri "mengapa saya dilahirkan?". Temukan jawaban anda sendiri jgn terlalu bergantung dgn keluarga, kerabat dan teman ada sendiri. Karena hanya andalah yg berhak menentukan kehidupan anda sendiri. Terima kasih atas perhatian anda telah membaca tulisan saya yg sangat biasa ini. Semoga saya bisa selalu menulis hingga blog ini mencapai limitnya.